ISRA’-MI’RAJ VIBES:
SAAT SHOLAT JADI PRIORITAS UTAMA!

Pernah dengar asal-usul Candi Prambanan? Konon, candi semegah itu dibuat oleh Bandung Bondowoso dengan bantuan antek-antek jin miliknya dari malam sampai terbit matahari. Lalu, apa kalian tahu kisah Sangkuriang? Cerita tentang pria sakti yang hampir mampu membuat sebuah danau dan perahu besar dalam satu malam. Walau terdengar ajaib dan luar biasa, itu semua tak lebih dari sekadar dongeng. Namun, bagaimana kalau ada peristiwa yang lebih hebat dari itu dan betul-betul terjadi?
Suatu peristiwa tentang perjalanan malam yang dialami Nabi Muhammad SAW atau yang kita kenal sebagai Isra Mi’raj merupakan momen penting di dalam agama Islam yang pada saat itu menguji keimanan siapa pun yang mendengarnya. Sebab, apa yang dialami Rasulullah memang sulit dipercaya. Bayangkan, seorang manusia menempuh perjalanan sejauh 1.463 km dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian naik menembus langit ketujuh hingga sidratul muntaha dalam waktu satu malam dengan kecepatan cahaya atau setara 300.000 km/detik! Inilah salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang Allah anugerahkan hanya kepada beliau.
Peristiwa dahsyat ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra (QS.17 : 1) dan Al-Qur’an surat An-Najm (QS. 53:13-18). Di situ, kita bisa menyadari bahwa tujuan dari fenomena Isra Mi’raj bukan hanya sebagai penghiburan bagi hati Rasulullah yang saat itu sedang resah di masa sulit dan penuh kesedihan karena istri dan paman beliau wafat, melainkan juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW dan pengingat akan keagungan tanda-tanda-Nya serta momen penetapan kewajiban shalat lima waktu.
Dengan demikian, pesan utama dari peristiwa Isra Mi’raj tidak lain ialah shalat. Lalu, apa ada rahasia di balik ibadah shalat yang membuatnya begitu diutamakan? Mari kita kupas satu per satu.
- Shalat dan Kekokohan Agama
Sangat kuat dalam ingatan kita, ‘shalat adalah tiang agama’. Kalimat tersebut menegaskan bahwa tanpa shalat, bangunan agama seseorang dianggap tidak lengkap. Meskipun orang tersebut haji plus umrah bolak-balik ke Makkah, tak pernah telat bayar zakat, atau pun rajin puasa Ramadan ditambah puasa sunah, amalan-amalan tersebut akan sia-sia sehingga bisa dibilang shalat adalah kunci agar ibadah-ibadah kita lainnya diterima di sisi Allah.
- Shalat, Ibadah yang Penuh dan Lengkap
Shalat bisa dikatakan sebagai ibadah yang lengkap karena di dalamnya terkandung seluruh ragam gerakan ibadah para malaikat. Bahkan malaikat, dengan segala kelebihannya, tidak menjalankan ibadah sekompleks shalat. Sebagian malaikat senantiasa beribadah dengan berdiri, lainnya terus-menerus ruku’, sisanya selalu sujud, dan seterusnya. Karena itu, melalui shalat, manusia sejatinya telah mengamalkan bentuk-bentuk ibadah makhluk-makhluk Allah yang mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Masyaa Allah.
- Shalat Sarat Nilai Sosial
Ternyata, shalat juga punya dimensi sosial yang tak kalah penting. Ketika selesai shalat, kita mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan kiri. Artinya, kita mendoakan keselamatan untuk orang di sisi kanan-kiri kita. Jadi, shalat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mewakili aspek sosial, ini menggambarkan sosok Musholli (yang selalu shalat ) adalah pribadi rahmatan lil’alamiin .
- Shalat, Membangun Akses Tanpa Batas
Sebagai salah satu bentuk kasih sayang-Nya terhadap manusia, shalat menjadi akses komunikasi langsung yang tidak menuntut persembahan, biaya, dan keadaan khusus selain kesiapan hati untuk menghadap kepada Sang Penguasa Langit & Bumi. Dalam shalat, setiap orang—apa pun latar belakangnnya—memiliki akses yang sama untuk berbicara, memohon, dan berserah. Oleh karena itu, shalat adalah ruang dialog terbuka tanpa perantara antara seorang hamba dengan Tuhannya agar manusia bisa senantiasa ingat untuk kembali kepada pemiliknya.
- Dialog Sunyi Antara Hamba dan Rabb-nya
Menariknya, setiap ayat di surat Al-Fatihah yang kita lantunkan , Allah pasti akan menjawabnya. Hal ini sesuai hadits riwayat Ahmad & Muslim. Apabila kita mengucap “alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”, Allah menyahut “hamba-Ku telah memuji-Ku”. Lalu, saat kita membaca “ar-rahmaanirrahim”, Dia menimpali “hamba-Ku menyanjung-Ku/memuja-Ku”. Selanjutnya, “maaliki yaumiddin”, Allah membalas “hamba-Ku mengagungkan-ku/telah menyerahkan urusannya pada-Ku”. Kemudian, “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”, Dia menjawab “ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Setelahnya, kita mengucap ayat keenam sampai akhir surat, maka sesungguhnya Allah berfirman “ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang ia minta”. Itulah dialog sebenarnya antara hamba dengan Rabb-nya.
Masya Allah, ternyata shalat itu amat istimewa. Perintahnya diberikan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui Isra’ Mi’raj. Pada awalnya Allah menyuruh kita shalat 50 kali. Bukankah tidak ada yang lebih tahu selain Allah bahwa para hamba-Nya takkan mampu melakukannya, bahkan Nabi Musa pun tahu dan menyarankan Rasulullah SAW untuk negosiasi minta keringanan lagi dan lagi kepada-Nya?
Allah sangat mencintai hambanya, begitulah kalau sudah cinta, inginnya terus bersua. Sama halnya dengan Allah. Ingin terus bertemu dengan kita melalui shalat. Dia memerintahkan Rasulullah SAW dan umatnya mendirikan shalat 50 kali per hari. Namun, lagi-lagi karena Allah punya rahmat yang begitu besar, akhirnya Dia bermurah hati mengurangi jumlah frekuensi shalat sampai menjadi 5 kali sehari. Allahu akbar!
Shalat merupakan salah satu nikmat terbesar dalam Islam. Saat di mana kita bisa berbicara langsung dengan Allah, tanpa perantara, tanpa batasan. Kita bisa mengungkapkan rasa syukur, harapan, dan permintaan kita kepada-Nya. Dalam shalat, kita bisa merasakan ketenangan hati, kedamaian jiwa, dan kekuatan spiritual. Kita bisa meninggalkan beban duniawi dan fokus pada hubungan kita dengan Allah.
Shalat juga adalah saat di mana kita bisa memperbaiki diri, meningkatkan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah. Setiap gerakan, setiap bacaan, dan setiap doa dalam shalat memiliki makna yang dalam dan hikmah yang besar.
Nikmatnya shalat tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan oleh hati yang khusyuk dan iman yang kuat. Semoga kita bisa meningkatkan kualitas shalat kita dan merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah. Mari terus berlatih untuk mendidirkan shalat dengan berkualitas, agar dapat merasakan nikmatnya shalat. Allahu a’lam.
Penulis-Raisa 10 E4,ed-Nur Kh
Maroji’ : https://www.liputan6.com/author/tim.konten, 25 Januari 2025
