INDAHNYA SILATURAHMI:
Menemukan Kembali Makna Halal Bihalal-Syawalan
Bulan Syawal selalu membawa getaran yang berbeda. Setelah sebulan penuh kita bergulat dengan disiplin diri di bulan Ramadan, Syawal hadir sebagai ruang perayaan. Namun, perayaan kita bukan sekadar tentang berakhirnya rasa lapar dan dahaga, melainkan tentang perayaan kemanusiaan melalui satu tradisi yang sudah mendarah daging di tanah air: Halal Bihalal atau Syawalan .
Lebih dari Sekadar Salaman: Makna Halal Bihalal – Syawalan
Secara bahasa, Halal bihalal atau dikenal dengan Syawalan mungkin unik, karena hanya populer di Indonesia. Namun secara esensi, ia adalah sebuah seni “mengurai benang yang kusut”. Dalam perjalanan hidup, kita sadar bahwa interaksi sosial tidak selalu mulus. Ada ego yang tersenggol, janji yang terlupa, atau kata-kata yang tanpa sengaja melukai hati rekan kerja, saudara, maupun tetangga.
Halal bihalal ( saling menghalalkan) menjadi “pintu darurat” yang menyelamatkan kita dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Ia adalah momen di mana kita meletakkan gengsi, membuka telapak tangan, dan mengakui bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Setidaknya ada tiga nilai penting yang menjadi filosofi “Halal bihalal” , yaitu :
Meluaskan hati untuk memberi maaf
Melepaskan ikatan dosa antar manusia dengan cara saling mengiklaskan
Menyambung kembali benang-benang persaudaraan yang sempat kusut karena khilaf.
Halal bihalal sering juga dikenal dengan istilah Syawalan¹, karena terjadi di bulan Syawal, setelah bulan Ramadan. Syawalan tidak bisa dilepaskan dari beberapa tradisi yang mengiringi, dan menjadi nilai tersendiri yang akan menambah kedalaman maknanya, yaitu :
Kupatan: banyak di wilayah Jawa di sebut dengan “Lebaran Ketupat”. Ketupat (kupat) memiliki filosofi Ngaku Lepat (mengakui kesalahan).
Mudik atau pulang kampung, dengan tujuan silaturahmi, sebagai bentuk menghormati orang tua dan berkumpul kembali dengan keluarga besar.
Open House, budaya membuka pintu rumah untuk tetangga dan kerabat tanpa memandang status social, memberikan suguhan istimewa, merupakan cerminan nyata dari sifat kedermawanan dan kemuliaan diri.
Kata kunci dari Halal Bihalal dan Syawalan adalah silaturahim. Silaturahmi merupakan salah satu perintah Allah SWT, dan implmentasi dari ketakwaan seseorang. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa (4) :1
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)
Ayat tersebut memerintahkan untuk bertakwa dan perintah untuk saling menjaga silaturahmi. dengan begitu hubungan kita dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah) tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan hubungan baik kepada sesame manusia (Hablum Minannas).
Sering kali kita hanya bersilaturahmi kepada mereka yang baik kepada kita. Namun, menyambung hubungan kepada keluarga atau sesama manusia, meskipun sudah terputus.
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)
Silaturahmi memiliki manfaat yang nyata bagi kesehatan mental dan spiritual kita, diantaranya² :
Menyambung Memori, Memperpanjang Usia: Bertemu dengan kerabat atau teman lama sering kali menjadi ajang nostalgia yang menyegarkan pikiran. Tertawa bersama atas cerita masa lalu adalah obat stres yang paling ampuh.
Membuka Pintu Rezeki yang Tak Terduga: Rezeki tidak selalu berupa uang. Bisa jadi, dalam obrolan santai saat Halal Bihalal, muncul peluang kerja sama, informasi baru, atau solusi atas masalah yang sedang kita hadapi.
Dengan silaturahmi akan membangun relasi yang sehat, baik mental maupun spiritual kita. Mari kita bangun vibes Syawal 1447H dengan merajut salaturahmi semakin kuat dan indah.
(Penulis Hasanah, Ed-Nur Kh)
Maroji’
¹Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).
²hadits yang diriwayatkan al-Bukhari, Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahmi.”
