You are currently viewing Cahaya Kartini, Obor Generasi Pembelajar

Cahaya Kartini, Obor Generasi Pembelajar

Seabad yang lalu, seorang perempuan muda duduk di depan meja kayu. Pena di tangannya menari di atas kertas, merangkai kegelisahan menjadi harapan, dan mengubah dinding-dinding pingitan menjadi jendela dunia. Ia adalah Raden Ajeng Kartini. Hari ini, bertepatan dengan 21 April 2026, namanya kembali menggema. Momen peringatan Hari Kartini adalah panggilan aksi, bukan sekadar seremonial ataupun kebaya yang kita kenakan. Kartini adalah sebuah ideologi tentang keberanian untuk menjadi cerdas.

Literasi: Senjata Utama Melawan Kegelapan

Kartini tidak memanggul senjata di medan perang, namun ia menaklukkan dunia dengan literasi. Lewat surat-suratnya, ia mengguncang pemikiran kolonial dan mendobrak tradisi yang membelenggu. Apa yang membuat cahaya Kartini tetap benderang hingga hari ini? Jawabannya adalah semangat pembelajarnya yang tak kunjung padam. Meski ruang geraknya dibatasi, pikirannya terbang menembus batas benua. Ia belajar bahasa, sejarah, dan sosiologi secara otodidak, juga tafsir Al-Quran dengan kyai Soleh Darat yang akhirnya mampu merubah pandangan spiritualnya.

Semangat literasi ini seirama dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-Alaq ayat 1: “Iqra’!” (Bacalah!).

Perintah “Iqra” bukan sekadar membaca teks, melainkan perintah untuk meneliti, menganalisis, dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT di semesta alam. Konon, spirit ini telah diterjemahkan oleh sahabat Zaid bin Tsabit untuk mempelajari berbagai bahasa asing dalam waktu singkat. Demikian juga sahabat Abu Hurairah yang rela menahan lapar hanya agar bisa terus berada di dekat Rasulullah untuk menyerap setiap butir hadis. Mereka tidak mengejar gelar, mereka mengejar rida Allah melalui jalur ilmu.

Kartini pernah menulis: “Tiada barang mustahil di dunia ini! Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriakkan mustahil, boleh jadi besok merupakan kenyataan yang tidak dapat dibantah.”[1] Kata-kata ini adalah pengingat bagi kita yang sering merasa putus asa pada kesulitan yang sedang dilalui. Kartini telah membuktikan bahwa solusi dari semua masalah adalah ilmu. Jadilah pembelajar yang selalu lapar akan ilmu. Orang yang benar-benar berilmu adalah mereka yang ada dalam dirinya kemampuan  membaca, menulis, merenungkan makna, sampai pada keterampilan dalam memfilter informasi, berpikir kritis, dan menciptakan sesuatu (kreatif). Inilah makna “Iqra’” yang sesungguhnya.

Kartini juga mengajarkan kita bahwa cita-cita mulia adalah tentang kebermanfaatan bagi sesama. Ia ingin melihat bangsanya maju, ia ingin perempuan-perempuan di sekitarnya bisa berdikari. Apapun itu, dasarnya adalah satu: ilmu pengetahuan yang mumpuni. Tanpa ilmu, niat baik hanyalah angan-angan.

Menuntut ilmu adalah bentuk jihad masa kini. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Maka, setiap lembar buku yang kita baca dan setiap rumus yang kita pecahkan adalah langkah kaki yang membawa kita  lebih dekat ke gerbang surga.

Jika sahabat Zaid, Abu Hurairah dan Kartini pada masanya telah memiliki pemikiran besar, betapa malunya kita jika dengan akses internet tanpa batas, kita justru tenggelam dalam pusaran konten yang tidak bermanfaat.

Di momen peringatan Hari Kartini, perubahan harus kita mulai. Jadikan Al-Qur’an sebagai manual kehidupan agar ilmu kita tetap berada di jalur yang benar. Jadikan para sahabat Nabi sebagai teladan dalam memaknai Alqur’an. Jadikan Kartini sebagai tokoh inspiratif dalam mendobrak kegelapan.

Pada era ini, kita memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi masa lalu: akses tanpa batas. Dunia ada di ujung jari kita, ilmu pengetahuan tersebar di berbagai platform digital, dan komunikasi lintas negara bisa dilakukan dalam hitungan detik. Mari kita rubah perilaku kita, dari sekadar “scroll” menjadi “search“, dari “update status” menjadi “update skill“. Jadikan gadget kita sebagai obor untuk menerangi ketidaktahuan, bukan sebagai belenggu yang membuang waktu dengan sia-sia.

“Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Mari kita usir kegelapan (kemalasan, ketidakpedulian, dan rendah diri) dengan cahaya ilmu. Kita harus bisa membuktikan bahwa kita adalah generasi yang pantas menyandang warisan Kartini. Generasi yang tidak hanya gemilang di layar digital, tapi juga bercahaya dalam karya dan pemikiran.

Selamat belajar, Sang Pembawa Obor! Masa depan bangsa ini menanti pendar cahayamu. (Penulis-Nur Kh, Ed-Kurnia F)

[1] https://www.liputan6.com/hot/read/5309548/50-ucapan-hari-kartini-yang-menginspirasi-bikin-wanita-lebih-percaya-diri