HARI KASIH SAYANG : CINTA SEJATI ATAU ILUSI?

Menjelang  momen 14 Februari, bakal ramai membahas soal Valentine’s Day (VD) atau biasa dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. Momen ini sering kali menjadi ajang menunjukkan kasih sayang dengan yang dianggap sebagai kekasih dan  memposposting foto dengan kekasih di media sosial, selain itu ada juga dengan cara lain seperti memberi cokelat, berbagi bunga, bahkan  juga ada yang sekadar ikut-ikutan tren biar nggak dibilang kurang gaul.

Tapi, pernah nggak sih kita coba mengulik lebih dalam: ”Sebenarnya bagaimana sih Sejarah Valentine’s Day sampai dinobatkan sebagai hari Kasih Sayang ?”  Saatnya kita membedah kembali biar tidak cuma sekadar ikut arus!

Sejarah Kelam di Balik Cokelat dan Bunga

Banyak orang mengira Valentine day itu murni soal kasih sayang. Padahal, kalau kita tarik garis sejarah, akarnya sangat jauh dari nilai-nilai Islam, yaitu terkait dengan dua sejarah berikut  :

1. Festival Lupercalia

Festival Lupercalia adalah perayaan tahunan pastoral yang yang terjadi pada masa pra-Romawi, yang dirayakan di kota Roma pada 15 Februari, untuk melawan roh-roh jahat dan memurnikan kota, memberikan kesehatan dan kesuburan, dikenal juga sebagai periode cinta dan kesuburan.

Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yaitu persembahan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Lupercalia juga disebut “dies Februatus” yang menjadi cikal bakal dari nama bulan Februari. Di zaman itu, ada tradisi penyembahan dewa-dewa yang jauh dari konsep tauhid.

2. St. Valentine

Nama “Valentine” sendiri diambil dari pendeta Kristen yang dihukum mati. Cerita St. Valentine ada banyak versi, salah satunya diceritakan bahwa Valentine adalah seorang pendeta yang melayani gereja pada abad ke-3 di Roma. Dia menentang deklarasi Kaisar pada saat itu yang melarang pernikahan bagi laki-laki muda. Meskipun demikian, ia diam-diam menikahi kekasihnya, yang akhirnya membuatnya dihukum mati setelah pernikahannya terungkap.

Jadi, jelaslah bahwa secara historis, Valentine Day itu memiliki akar keagamaan dan kepercayaan non Muslim, yang sebenarnya berasal dari ritual pagan Romawi yang diadopsi oleh gereja Kristen.

“Bahaya” yang Nggak Disadari

Mungkin ada yang mikir, “Ah, cuma kasih cokelat doang, apa bahayanya?” Nah, ini dia sisi “gelap” yang perlu kita waspadai:

  1. Normalisasi Pacaran. Valentine sering banget menjadi pintu masuk buat melanggar batasan pergaulan (free sex atau perzinaan) dengan dalih “pembuktian cinta”.
  2. Gaya Hidup Konsumtif. Kita dipaksa membeli dan menyiapkan “sesuatu” demi sebuah “validasi” sosial, tanda sayang. Ini menjadi pintu pemborosan yang sangat dilarang agama.
  3. Krisis Identitas. Sikap ikut-ikutan karena tren tanpa filter (taqlid), lama kelamaan akan menggerus jati dan prinsip diri kita sebagai Muslim.

Pandangan Islam: Cinta Sejati Bukan Ilusi

Islam adalah agama kasih sayang (Rahmatan lil ‘Alamin). Islam memiliki aturan main sendiri dalam mengekspresikan cinta. Islam mengajarkan kita untuk mencintai dan menghormati orang lain, tapi tidak dengan cara yang salah kaprah. Dalam Islam, puncak cinta hanya untuk Allah SWT semata, mencintai seseorang karena Allah dengan cara mengikuti aturan Allah.

Allah SWT berfirman,

وَٱلَّذِينَءَامَنُوٓا۟أَشَدُّحُبًّۭالِّلَّهِۗ

Tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 165).

Dalam pembuktian cinta, Islam mengarahkan untuk berpegang pada prinsip-prinsip berikut :

  • Kasih Sayang Tanpa Batas. Kenapa harus nunggu 14 Februari buat kasih hadiah ke orang tua atau pasangan halal? Dalam Islam, setiap hari adalah hari kasih sayang. Tumbuhkan rasa cinta dengan selalu memberi perhatian atau hadiah di setiap saat dan waktu. Kita bangun cinta tulus, cinta sejati karena Ilahi…
  • Tidak Tasyabbuh, meniru-niru budaya asing.

Nabi SAW pernah bersabda,

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله الهم قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.”       أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR Imām Abū Dāwūd dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Hadis di atas mengajak kita buat bangga dengan identitas kita sendiri, tidak taqlid kepada ajaran lain. Mengekspresikan cinta dengan cara-cara yang diridhoi Allah SWT.

Tips Penting: tetap kuat dengan Muslim Value!

  1. Selektif Pilih Circle

Hati-hati dalam berteman, Circel is key. Teman yang baik akan mengajak kepada sesuatu yang bermanfaat. Cari circle yang saling mengingatkan agar hidup produktif, bukan yang sibuk mengajak foya-foya.

  1. Isi Waktu dengan Upgrade Skill

Gunakan waktu untuk menjadikan kita semakin kompeten, agar kita semakin keren. Jadikan dalam list agenda harian kita, seperti membaca buku untuk menambah wawasan, Ikut komunitas positif atau volunteer, mendalami ilmu agama atau belajar skill baru (editing, coding, dan sebagainya).

  1. Tunjukkan Kasih Sayang yang Berkelas

Tunjukkan kasih sayang ke orang tua, pasangan halal dengan cara memberi kejutan di hari- hari special agar lebih bermakna dan berpahala!

Sudah saatnya kita berfikir kritis, jangan FOMO ( Fear of Missing Out), karena kita punya prinsip, kita punya harga diri, dan kita punya cara sendiri buat mencintai.

Mari  fokus perbaiki diri dan jaga pergaulan! Stay smart, stay syari!

Penulis : Nur Khasanah, Editor : Kurnia