You are currently viewing FIELD STUDY: Pemantik Jiwa Peneliti Melalui Zoo-Ciety

FIELD STUDY: Pemantik Jiwa Peneliti Melalui Zoo-Ciety

YOGYAKARTA – Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Alam dan lingkungan sekitar menyediakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman, pengamatan, dan pengetahuan. Semangat inilah yang dihadirkan dalam kegiatan Field Study siswa kelas 10 SMAIT Abu Bakar Yogyakarta bertema “Zoo-CIETY: Uncovering Wildlife, People, and Ecosystem Behind the Scene” yang dilaksanakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 10 sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan sains dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengungkap lebih jauh kehidupan satwa, interaksi manusia, serta ekosistem yang mendukung keberlangsungan operasional sebuah kebun binatang modern.

Mengawali Kegiatan dengan Apel Bersama

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel bersama di kawasan Gembira Loka Zoo. Apel dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars SMAIT Abu Bakar Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Kurnia Fermani Hidayah, S.Si., M.Pd., menyampaikan sambutan yang mengawali kegiatan pembelajaran di luar kelas. Selanjutnya, Isnaeni Abdul Azzam, S.Pd sebagia panitia acara ini, memberikan pengarahan mengenai teknis pelaksanaan kegiatan, tugas kelompok, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama observasi. Kegiatan apel ditutup dengan do’a bersama.

Mengungkap Penerapan Sains di Balik Kebun Binatang Gembiraloka

Salah satu fokus utama Field Study ini adalah mengajak siswa memahami bahwa ilmu sains tidak hanya dipelajari melalui teori dan eksperimen di laboratorium sekolah. Prinsip-prinsip sains juga memiliki peran penting dalam pengelolaan kebun binatang, mulai dari pemeliharaan satwa hingga pengelolaan lingkungan.

Pada bidang Biologi, siswa melakukan pengamatan terhadap keanekaragaman hayati pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem, mengenali klasifikasi taksonomi satwa, serta menganalisis bentuk adaptasi morfologi dan perilaku hewan terhadap lingkungannya. Siswa juga mempelajari konsep konservasi ex situ, yaitu upaya pelestarian makhluk hidup di luar habitat alaminya, yang menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan lembaga konservasi satwa.

Pada bidang Fisika, siswa mempelajari konsep jarak, perpindahan, kelajuan, dan kecepatan melalui aktivitas perjalanan dan pengamatan selama berada di kawasan kebun binatang. Siswa juga diarahkan untuk memahami karakteristik Gerak Lurus Beraturan (GLB) serta membedakan konsep-konsep gerak tersebut melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, pada bidang Kimia, siswa mengkaji pentingnya kualitas air, proses disinfeksi, kualitas pakan, potensi kontaminasi, serta sanitasi kandang dan kebersihan lingkungan. Melalui pengamatan dan analisis, siswa diajak memahami bahwa kondisi lingkungan yang terjaga merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan satwa.

Berbagai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari di kelas dengan penerapannya dalam situasi nyata.

Mempelajari Aktivitas Ekonomi, Geografi dan Sosiologi.

Tidak hanya berfokus pada sains, Field Study ini juga mengintegrasikan pembelajaran IPS melalui kajian aktivitas ekonomi, geografi dan interaksi sosial di Gembira Loka Zoo.

Dalam aspek ekonomi, siswa mempelajari bagaimana kebun binatang menjalankan aktivitas ekonomi sebagai lembaga yang menyediakan layanan rekreasi, edukasi, dan konservasi. Siswa diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai kegiatan ekonomi yang mendukung operasional kebun binatang, memahami keterlibatan berbagai pihak, serta mengkaji hubungan antara pelayanan pengunjung, pengelolaan fasilitas, dan keberlanjutan kegiatan konservasi.

Pada aspek interaksi sosial, siswa mengamati hubungan antarpersonel di lingkungan kerja kebun binatang, interaksi antara petugas dan pengunjung, serta peran komunikasi dan kerja sama dalam mendukung pelayanan dan pengelolaan satwa. Pengamatan ini diharapkan dapat membantu siswa memahami pentingnya pembagian tugas, tanggung jawab, komunikasi yang efektif, dan kolaborasi dalam suatu lingkungan kerja.

Melalui pendekatan tersebut, siswa memperoleh gambaran bahwa pengelolaan kebun binatang tidak hanya berkaitan dengan satwa dan lingkungan, tetapi juga melibatkan sistem ekonomi, sumber daya manusia, serta hubungan sosial yang saling mendukung.

Kolaborasi, Observasi, dan Kreativitas dalam Tugas Kelompok

Selama kegiatan berlangsung, siswa bekerja bersama kelompok masing-masing untuk menyelesaikan Lembar Kerja Murid (LKM) yang memadukan materi sains dan IPS. Setiap kelompok melakukan pengamatan, mengumpulkan informasi, mendiskusikan temuan, serta menyusun jawaban berdasarkan data yang diperoleh di lapangan.

Selain mengerjakan LKM, siswa juga mendapatkan tugas kreatif berupa pembuatan video perjalanan kegiatan. Mereka diarahkan untuk mendokumentasikan pengalaman selama berada di Gembira Loka Zoo serta melakukan wawancara dengan petugas dan pengunjung guna menggali informasi mengenai pengelolaan kebun binatang, pengalaman berkunjung, dan pandangan masyarakat terhadap fungsi kebun binatang.

Kegiatan dokumentasi dan wawancara ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, literasi informasi, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama. Siswa juga belajar menyusun pertanyaan, menyimak jawaban narasumber, serta mengolah informasi menjadi dokumentasi yang informatif dan menarik.

Menguatkan Dimensi Profil Lulusan melalui Kegiatan Kokurikuler

Lebih dari sekadar kegiatan pembelajaran di luar kelas, Field Study Zoo-CIETY merupakan bagian dari kegiatan kokurikuler SMAIT Abu Bakar Yogyakarta yang dirancang untuk memperkuat kompetensi dan karakter siswa melalui pengalaman belajar kontekstual dan lintas disiplin ilmu.

Kegiatan Field Study ini diarahkan untuk mengembangkan tiga dimensi Profil Lulusan, yaitu penalaran kritis, kolaborasi, dan komunikasi, dengan subdimensi serta indikator capaian yang disesuaikan dengan aktivitas pembelajaran.

Pertama, dimensi penalaran kritis melalui subdimensi penyelesaian masalah. Siswa ditantang untuk mengamati fenomena secara langsung, mengumpulkan informasi, menganalisis temuan, dan menyusun solusi atau kesimpulan berdasarkan pendekatan ilmiah. Dalam pembelajaran Biologi, misalnya, siswa menganalisis adaptasi satwa dan keanekaragaman hayati. Pada pembelajaran Fisika, siswa mengkaji konsep gerak, sedangkan pada pembelajaran Kimia, siswa mempelajari kualitas air, pakan, dan sanitasi lingkungan. Melalui kajian IPS, siswa juga menganalisis aktivitas ekonomi dan interaksi sosial di lingkungan kebun binatang. Proses ini diharapkan membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah secara logis, kontekstual, dan mandiri.

Kedua, dimensi kolaborasi melalui subdimensi kerja sama. Pelaksanaan tugas dalam kelompok mendorong siswa untuk berbagi peran, bertukar gagasan, menyatukan hasil pengamatan, dan bertanggung jawab terhadap penyelesaian tugas bersama. Ketika melakukan observasi dan wawancara, siswa juga belajar berinteraksi dengan pihak di luar kelompoknya, termasuk petugas dan pengunjung kebun binatang. Pengalaman ini menjadi sarana untuk membangun kerja sama yang efektif, konsisten, dan berorientasi pada pencapaian tujuan bersama.

Ketiga, dimensi komunikasi melalui subdimensi menulis. Penyusunan jawaban LKM, pencatatan hasil observasi, perumusan pertanyaan wawancara, serta pembuatan narasi dan dokumentasi video menjadi sarana bagi siswa untuk menyampaikan informasi secara tertulis dengan tepat dan efektif. Siswa belajar mengolah data dan informasi dari lapangan menjadi laporan yang runtut, relevan, dan dapat dipahami. Melalui proses tersebut, siswa diharapkan mampu menyampaikan, menggali, dan menanggapi berbagai informasi melalui beragam bentuk teks secara benar, lancar, dan efektif.

Pencapaian ketiga dimensi tersebut menjadi bagian penting dalam proses refleksi dan evaluasi kegiatan kokurikuler. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa jawaban LKM atau video perjalanan, tetapi juga mempertimbangkan proses berpikir, kontribusi individu dalam kelompok, tanggung jawab, serta kualitas penyampaian informasi.

Dengan demikian, Field Study Zoo-CIETY menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata sekaligus mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan. Selaras dengan semangat SMAIT Abu Bakar Yogyakarta sebagai The School of Leaders, kegiatan ini diharapkan turut membentuk generasi yang kritis dalam berpikir, mampu bekerja sama, dan terampil berkomunikasi, serta memiliki kepedulian terhadap satwa, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. ( Rep : Nia, Ed- Nur Kh)